logo
Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Pickering dekat Toronto, Ontario, Kanada (Reuters/Carlos Osorio)
Energi

Apa Kabar Proyek Pembangkit Nuklir Pertama di RI?

  • Dalam Rancangan Peraturan Pemerintah Kebijakan Energi Nasional (RPP KEN) dan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia direncanakan mulai beroperasi secara on grid pada 2032 dengan kapasitas awal 250 MW.

Energi

Debrinata Rizky

JAKARTA -  Dalam Rancangan Peraturan Pemerintah Kebijakan Energi Nasional (RPP KEN) dan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia direncanakan mulai beroperasi secara on grid pada 2032 dengan kapasitas awal 250 MW.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menjelaskan, saat ini, pengembangan energi nuklir di Indonesia masih berada dalam fase 1 atau tahap persiapan pembangunan PLTN sesuai pedoman dari International Atomic Energy Agency (IAEA).

"Sesuai dengan dokumen The Integrated Nuclear Infrastructur Review (INIR) Mission to Review The Status of Indonesia's National Nuclear Infrastructure oleh IAEA, terdapat 19 butir kesiapan infrastruktur PLTN," katanya saat Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR, dilansir Rabu, 19 Februari 2025.

Lebih lanjut anak buah Bahlil Lahadalia ini mengatakan, posisi Indonesia saat ini yakni 16 butir sudah siap menuju fase 2, tetapi 3 butir belum siap menuju fase 2 mencakup poin Posisi Nasional, Manajemen (Pembentukan NEPIO), dan Keterlibatan Pemangku Kepentingan.

Kementerian ESDM masih menunggu rancangan Undang-Undang Energi Baru Energi Terbarukan (RUU EBET) dan revisi Undang-Undang (RUU) Ketenaganukliran.

Secara pararel pemerintah juga sedang membentuk Badan Organisasi Nuklir (Nuclear Energy Program Implementation Organization/NEPIO) untuk memberikan kewenangan dari Presiden kepada Menteri ESDM terkait operasional PLTN.

Dalam NEPIO tersebut, kata Eniya, akan dibentuk tiga kelompok kerja (pokja). Pertama untuk mengidentifikasi perencanaan. Kedua untuk operasional dan pembangkitan, dan ketiga adalah berkaitan isu keamanan, masyarakat, regulasi, dan lain sebagainya.

Sementara itu, terkait dengan lokasi yang tepat untuk membangun PLTN yang potensial, BRIN telah mengidentifikasi 28 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Lokasi-lokasi tersebut berada di Semenanjung Muria, Banten, Batam, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).

Nantinya setelah beroperasi di 2032 dengan kapasitas awal 250 MW. Kapasitas PLTN ditargetkan meningkat hingga 7 gigawatt pada 2040.

Selanjutnya, pada 2045 ditargetkan naik menjadi 16-19 GW, pada 2050 menjadi 22-26 GW, pada 2055 menjadi 27-30 GW, dan pada 2060 ditargetkan menjadi 35-42 GW.

Berikut daftar 28 lokasi PLTN tapak potensial berdasarkan kajian BATAN dengan total kapasitas 70,5 gigawatt (GW):

1. Bangka Selatan, Bangka Belitung (4 GW): Selesai evaluasi
2. Bangka Barat, Bangka Belitung (6 GW): Selesai evaluasi
3. Ujung Lemahabang. Jepara. Semenanjung Muria. Jawa Tengah (7 GW): Selesai evaluasi
4. Kramatwatu-Bojanegara. Banten (4 GW): Penapisan
5. Pangkalan Susu. Langkat. Sumatera Utara (4 GW): Skrining faktor penolak
6. Tanjung Balai. Asahan. Sumatera Utara (4 GW): Skrining faktor penolak
7. Bintan, Riau (0,1 GW): Skrining faktor penolak
8. Air Hitam. Ketapang. Kalimantan Barat (4 GW): Skrining faktor penolak
9. Kuala Jelai. Kalimantan Barat (4 GW): Skrining faktor penolak
10. Morowali. Sulawesi Tengah (3 GW): Skrining faktor penolak
11. Muna. Sulawesi Tenggara (3 GW): Skrining faktor penolak
12. Toari. Kolaka. Sulawesi Tenggara (4 GW): Skrining faktor penolak
13. Tanjung Kobul. Maba. Halmahera. Maluku (0,2 GW): Skrining faktor penolak
14. Merauke. Papua (0,2 GW): Skrining faktor penolak
15. Timika. Papua (0,2 GW): Skrining faktor penolak
16. Teluk Bintuni. Papua Barat (0,2 GW): Skrining faktor penolak
17. Gerokgak. Buleleng. Bali (0,1 GW): Skrining faktor penolak
18. Batam (0,5 GW): Pra-survei
19. Pulau Semesa. Kalimantan Barat (1 GW): Pra-survei
20. Pantai Gosong. Kalimantan Barat (1 GW): Pra-survei
21. Sambas. Kalimantan Barat (1 GW): Pra-survei
22. Kramatjaya. Kendawangan. Ketapang. Kalimantan Barat (4 GW): Pra-survei
23. Muara Pawan. Ketapang. Kalimantan Barat (4 GW): Pra-survei
24. Pagar Mentimun. Ketapang. Kalimantan Barat  (4 GW): Pra-survei
25. Kendawangan. Ketapang. Kalimantan Barat (4 GW): Pra-survei
26. Sangata. Kalimantan Timur (1 GW): Pra-survei
27. PPU. Babulu laut. Kalimantan Timur (1 GW): Pra-survei
28. Samboja. Kalimantan Timur (1 GW): Pra-survei