logo
Anggota tim dari Lembaga Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta mengamati hilal di Masjid Hasyim Asyari, Jakarta Barat, Minggu 10 Maret 2024. Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1445 Hijriah jatuh pada Selasa 12 Maret 2024. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia
Nasional

Awal Ramadan 2025 Berpotensi Berbeda

  • Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan ada potensi perbedaan mengenai awal bulan Ramadan tahun 2025. BRIN memprediksi 1 Ramadan 1446 H bisa jatuh pada Minggu, 2 Maret 2025, sementara Muhammadiyah telah menetapkan Sabtu, 1 Maret 2025, sebagai awal puasa.

Nasional

Chrisna Chanis Cara

JAKARTA—Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan ada potensi perbedaan mengenai awal bulan Ramadan tahun 2025. BRIN memprediksi 1 Ramadan 1446 H bisa jatuh pada Minggu, 2 Maret 2025, sementara Muhammadiyah telah menetapkan Sabtu, 1 Maret 2025, sebagai awal puasa. 

Pemerintah sendiri bakal menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan 1446 H pada Jumat, 28 Februari 2025. Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, mengatakan semua pihak dapat memprediksi kapan awal Ramadan dimulai, termasuk BRIN. “Semua orang bisa memprediksi (awal puasa),” ujar Nasaruddin di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 27 Februari 2025.  

Nasarudin menyatakan keputusan ihwal jatuhnya awal Ramadan bakal ditetapkan usai sidang isbat hari Jumat. “Keputusan rapat menentukan (awal puasa) besok (Jumat). Kalau ada yang yang menyaksikan bulan, kenapa harus ditunda? Kalau enggak (ada yang melihat hilal) baru kita diskusi,” ujarnya.

Kementerian Agama (Kemenag) bakal melakukan pemantauan hilal (rukyatul hilal) awal Ramadan 1446 Hijriah di 125 titik di seluruh Indonesia pada Jumat sekitar pukul 07.44 WIB. Kriteria yang akan dipakai adalah kriteria yang ditetapkan MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yakni imkanur rukyat. 

Posisi Hilal

Menurut metode tersebut, hilal dianggap memenuhi syarat apabila posisinya mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat. Adapun sidang isbat terdiri dari tiga tahapan utama. 

Hal itu yakni pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi (hisab), verifikasi hasil rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia, dan musyawarah dan pengambilan keputusan yang akan diumumkan kepada publik.

Sidang akan dihadiri berbagai pihak, termasuk perwakilan ormas Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ahli falak, serta perwakilan dari DPR dan Mahkamah Agung.

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika dari Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, mengatakan hilal yang memenuhi kriteria MABIMS diprediksi hanya akan terlihat di Aceh. “Wilayah lain belum memenuhi kriteria,” ujarnya, dikutip dari YouTube BRIN Indonesia.

Baca Juga: 7 Tradisi Jelang Ramadan di Indonesia, Dari Nyorog hingga Padusan

Dia menyebut di Surabaya, tinggi bulan hanya 3,7° dengan elongasi 5,8°, masih di bawah batas kriteria MABIMS. Selain faktor astronomi, kondisi cuaca berpotensi mengganggu pengamatan hilal. “Potensi gagal rukyat cukup besar. Selain hilal sangat tipis, faktor cuaca kemungkinan besar menjadi kendala,” ujarnya.

Menurut Thomas, ketidakpastian hasil rukyat  berpotensi memicu perdebatan dalam sidang isbat. Thomas mengatakan ada dua alternatif keputusan yang bisa diambil. Pertama, sidang isbat tetap konsisten dengan kriteria MABIMS dan merujuk fatwa MUI 1981. “Dengan hasil hisab di Aceh yang memenuhi kriteria, maka 1 Ramadan jatuh pada 1 Maret 2025,” ujarnya.

Namun, opsi kedua adalah sidang isbat mengambil keputusan berdasarkan hasil rukyat. “Karena di sebagian besar wilayah Indonesia hilal tidak mungkin dirukyat, maka 1 Ramadan bisa ditetapkan pada 2 Maret 2025,” ujarnya.

Pihaknya bakal menghormati apapun keputusan dalamm sidang isbat. Thomas menyebut sidang akan dihadiri pakar astronomi, pakar fikih hingga perwakilan ormas yang memiliki kapasitas. “Sidang pasti mempertimbangkan aspek astronomis, fiqih dan kemaslahatan umat,” ujarnya.