logo
Layar menampilkan pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 12 Januari 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia
Bursa Saham

Mengukur Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Pasar Modal

  • Pasar modal Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang diperkirakan akan berdampak negatif terhadap keuangan korporasi dan indeks composite.

Bursa Saham

Bagaskara

Bagaskara

Author

JAKARTA – Pasar modal Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang diperkirakan akan berdampak negatif terhadap keuangan korporasi dan indeks composite.

Executive Director JP Morgan Indonesia, Henry Wibowo, menjelaskan bahwa pasar modal Indonesia sangat rentan terhadap dinamika global, seperti perubahan kebijakan luar negeri yang dapat mengarah pada kondisi ekonomi yang lebih bergejolak. 

Salah satu dampak utama dari ketidakpastian global, seperti fenomena "Trump 2.0", adalah pelemahan rupiah. Menurut analisis JP Morgan, hal ini berpotensi memengaruhi kinerja ekuitas dan pendapatan korporasi.

“Setiap penurunan 1% nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat menurunkan pendapatan perusahaan sebesar 0,5%, yang semakin memperburuk proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelasnya pada Jumat, 21 Februari 2025. 

Sementara itu, jika rupiah melemah sekitar 5%, diperkirakan dampaknya terhadap pendapatan korporasi adalah penurunan sekitar 2,5%. “Ini menunjukkan betapa besar pengaruh nilai tukar terhadap kondisi pasar modal,” tambahnya.

Indonesia, menurutnya, merupakan negara yang paling dirugikan oleh pelemahan rupiah, berbeda dengan negara seperti Jepang yang justru diuntungkan dengan peningkatan ekspor akibat pelemahan mata uang mereka.

Selain faktor eksternal yang dipengaruhi oleh kondisi global, JP Morgan juga menyoroti pentingnya konsumsi domestik dalam memengaruhi pasar modal Indonesia. Sebagai negara dengan lebih dari 60% PDB yang berasal dari konsumsi domestik, Indonesia memiliki potensi besar untuk pulih jika konsumsi pasar massal kembali meningkat. 

Kendati ada tren positif di kalangan konsumen menengah ke atas, konsumsi pasar massal masih menunjukkan performa yang lemah. "Harapannya, dengan berbagai stimulus dan kebijakan pemerintah, pemulihan konsumsi pasar massal akan mendorong perekonomian dan pasar modal Indonesia untuk bangkit kembali," ujar Henry.

Bagi para investor, JP Morgan merekomendasikan sektor-sektor yang berfokus pada konsumsi domestik, seperti sektor consumer staples dan consumer discretionary, yang diperkirakan akan mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat. 

Sebaliknya, sektor perbankan saat ini masih cukup sensitif terhadap sentimen global yang berkembang, sehingga kurang dianjurkan untuk investasi dalam kondisi ini. "Investasi di sektor konsumsi akan lebih stabil dan defensif karena lebih berorientasi pada kebutuhan domestik, yang cenderung lebih tahan terhadap fluktuasi ekonomi global," tambah Henry.

Sementara itu, pada pembukaaan perdagangan hari ini nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS, tercatat pada Rp 16.268 per dolar AS, naik 0,32% atau 51,5 poin. Bank Indonesia (BI) menyatakan meskipun pasar keuangan global penuh tekanan, nilai tukar rupiah tetap stabil berkat kebijakan stabilisasi yang konsisten, aliran modal asing yang masih masuk, serta imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik.

Secara point to point (ptp), rupiah menguat 0,15% dibandingkan akhir Desember 2024. Namun, secara year to date (ytd), rupiah melemah 1,06%. BI menekankan bahwa meskipun ada pelemahan tersebut, rupiah masih stabil dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya. Ke depan, BI memperkirakan nilai tukar rupiah akan tetap stabil dengan prospek ekonomi Indonesia yang positif.