
Berikut Tiga Jurus OJK Bangkitkan Pasar Modal Indonesia
JAKARTA – Pandemi COVID-19 bukan satu-satunya alasan yang menyebabkan geliat pasar modal Indonesia begitu melempem sepanjang tahun ini. Di luar itu, ada faktor-faktor elementer yang membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini hanya suam-suam kuku belaka. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut, salah satu faktor mendasar itu adalah […]
Industri
JAKARTA – Pandemi COVID-19 bukan satu-satunya alasan yang menyebabkan geliat pasar modal Indonesia begitu melempem sepanjang tahun ini. Di luar itu, ada faktor-faktor elementer yang membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini hanya suam-suam kuku belaka.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut, salah satu faktor mendasar itu adalah kurang mendalamnya penetrasi pasar modal Indonesia. Itu, kata dia, menyebabkan volatilitas pasar modal di Tanah Air sangat rentan terhadap setiap sentimen yang terjadi, baik secara nasional maupun korporasi.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
- Anies Baswedan Tunggu Titah Jokowi untuk Tarik Rem Darurat hingga Lockdown
- IPO Akhir Juni 2021, Era Graharealty Dapat Kode Saham IPAC
Untuk itu, Wimboh pun mengaku telah menyiapkan sejumlah siasat untuk mengakali problematika ini. Pertama, OJK bakal berupaya untuk memperluas instrumen pasar modal di Indonesia.
“Instrumen ritel sangat penting bagaimana kita memberikan insentif bagi para emiten untuk menciptakan instruman yang bisa diakses investor ritel,” Dengan banyaknya instrumen, maka kita akan mempunyai variasi instrumen yg lebih banyak,” terang Wimboh dalam acara Capital Market Summit & Expo 2020, Senin 19 Oktober 2020.
Cara selanjutnya adalah dengan memperluas basis investor Tanah Air. Utamanya perluasan investor-investor ritel dalam negeri. Dengan cara ini, volatilitas pasar modal di Tanah Air bisa terjaga dan stabil kendatipun ada banyak guncangan yang menerpa.
Berikutnya, perbaikan infrastruktur. Wimboh menginginkan adanya digitalisasi dan sentralisasi teknologi untuk mempermudah akses pasar modal bagi seluruh investor di Tanah Air.
Untuk mengejawantahkan mimpi itu, OJK pun tengah menyiapkan teknologi Central Counterparty (CCP) agar sentralisasi dan digitalisasi pasar modal semakin menyeluruh dan komprehensif.
“Ini adalah terobosan yang kami harapkan tidak terlalu lama dan bisa segera digunakan untuk centralize clearing,” tegas Wimboh.