logo
Ilustrasi orang di luar bank. (Freepik/pch.vector)
Perbankan

BI Siapkan Insentif Pembiayaan 3 Juta Rumah, Seberapa Besar Dampak untuk Likuiditas Perbankan?

  • Meskipun insentif senilai Rp80 triliun itu terdengar besar, nilai tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total kredit yang beredar di sektor perbankan Indonesia, yang mencapai sekitar Rp5.000 triliun.

Perbankan

Idham Nur Indrajaya

JAKARTA – Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa insentif sebesar Rp80 triliun untuk pembiayaan program 3 juta rumah yang dicanangkan pemerintah, meskipun memiliki potensi dampak positif, namun masih perlu perhatian khusus terkait likuiditas perbankan.

Rully menyampaikan pandangannya terkait bagaimana dampak insentif tersebut terhadap sistem perbankan, terutama bank-bank besar seperti Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Menurut Rully, meskipun insentif senilai Rp80 triliun itu terdengar besar, nilai tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total kredit yang beredar di sektor perbankan Indonesia, yang mencapai sekitar Rp5.000 triliun. 

"Sebenarnya nilainya masih agak kecil, tapi trickle-down effect atau dampak turunannya bisa cukup signifikan, tergantung seberapa cepat realisasinya," ujar Rully saat ditemui seusai acara Media Day by Mirae Asset Sekuritas di Jakarta, Kamis, 13 Februari 2025.

Ia menambahkan bahwa semakin cepat program ini terealisasi, maka dampak positif terhadap perekonomian, terutama sektor perbankan, dapat lebih cepat dirasakan.

Namun, Rully mengingatkan bahwa potensi risiko yang muncul adalah kenaikan Non-Performing Loan (NPL) atau kredit macet, terutama jika pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terbilang lambat. "Kita khawatirkan apabila daya beli masyarakat masih lemah, ini bisa memicu NPL yang lebih tinggi," lanjutnya.

Prospek Sektor Perbankan: Suku Bunga dan Likuiditas

Rully juga mengungkapkan bahwa prospek perbankan ke depan masih sangat bergantung pada suku bunga dan likuiditas. 

Bank-bank BUMN seperti BRI, Bank Mandiri, dan BNI kini tengah menghadapi tekanan yang cukup berat. Pasalnya, selain berperan sebagai pendorong proyek pemerintah, bank-bank tersebut juga harus menghadapi beban likuiditas yang tinggi.

"Bank-bank BUMN ini memiliki tugas negara untuk mendukung berbagai proyek pemerintah. Ini bisa menjadi beban, dan kita berharap pemerintah tidak menambah beban yang terlalu besar kepada bank-bank tersebut," jelas Rully. 

Meskipun begitu, ia juga optimistis bahwa sektor perbankan dapat bertahan, apalagi dengan adanya potensi pendapatan dari pembagian dividen yang besar serta penurunan suku bunga yang diharapkan dapat memberikan stimulus.

Kemungkinan Penurunan Suku Bunga oleh Bank Indonesia

Rully menjelaskan bahwa keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga menjadi faktor kunci dalam pergerakan pasar saham dan likuiditas perbankan. 

Menurutnya, jika BI menurunkan suku bunga pada kuartal pertama atau kedua tahun ini, itu akan menjadi sinyal positif bagi pasar dan dapat menarik investor asing untuk kembali masuk ke pasar saham.

"Sentimen buruk di pasar sudah mulai lewat. Yang menjadi fokus saat ini adalah apakah BI akan menurunkan suku bunga. Jika itu terjadi, kemungkinan besar akan ada arus masuk dari investor asing," ujar Rully. 

Ia juga mengingatkan bahwa pasar sudah sangat mengantisipasi penurunan suku bunga pada minggu depan, sehingga jika BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga, pasar dapat merespons positif.