logo
Ilustrasi aset kripto Bitcoin.
Fintech

Bitcoin & Ethereum Jatuh! Peretasan Bybit dan Suku Bunga The Fed Jadi Biang Kerok

  • Selain tekanan makroekonomi dan institusional, pasar kripto juga terguncang oleh peretasan besar yang menimpa platform perdagangan Bybit.

Fintech

Idham Nur Indrajaya

JAKARTA - Pasar aset digital mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir, dengan mayoritas mata uang kripto terjebak di zona merah. Bitcoin (BTC) sempat turun ke level US$84.436, sementara Ethereum (ETH) merosot hingga US$2.330. 

Menurut analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi, arus keluar besar dari ETF, serta dampak peretasan besar yang menimpa platform perdagangan Bybit. 

Salah satu faktor utama yang menekan harga kripto adalah ketidakpastian ekonomi global, khususnya kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed). Inflasi di Amerika Serikat tercatat lebih tinggi dari perkiraan, yakni mencapai 3% secara tahunan (year-on-year/yoy). Kondisi ini memicu spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang pada akhirnya menekan aset berisiko seperti kripto. 

Selain itu, kebijakan perdagangan yang diumumkan mantan Presiden AS, Donald Trump, turut memperburuk sentimen pasar. Trump mengumumkan tarif baru terhadap Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa, yang berdampak pada ketidakpastian ekonomi global, termasuk di sektor aset digital. 

Arus Keluar Besar ETF Bitcoin dan Ethereum 

Tekanan jual semakin diperparah oleh arus keluar besar dari ETF Bitcoin dan Ethereum. Pada 25 Februari, ETF Bitcoin mencatat arus keluar harian terbesar sepanjang sejarah, mencapai US$1,138 miliar, disusul tambahan US$336,5 juta pada 26 Februari. ETF Ethereum juga mengalami arus keluar sebesar US$24,5 juta, yang mengindikasikan bahwa investor institusional mulai mengurangi eksposur mereka terhadap aset kripto. 

“Pasar derivatif juga mengalami tekanan besar, dengan total likuidasi mencapai US$764,32 juta dalam 24 jam terakhir,” jelas Fyqieh. Sektor Bitcoin Futures menjadi yang paling terdampak, dengan likuidasi mencapai US$459 juta, yang memicu aksi jual lebih lanjut di pasar spot. 

Peretasan Jadi Pemicu Kepanikan 

Selain tekanan makroekonomi dan institusional, pasar kripto juga terguncang oleh peretasan besar yang menimpa platform perdagangan Bybit. Serangan siber ini menyebabkan kerugian sekitar US$1,5 miliar, yang memicu kepanikan di kalangan investor. 

Investigasi menunjukkan bahwa kredensial pengembang infrastruktur Safe(Wallet) berhasil dikompromikan, memungkinkan peretas mengambil alih aset digital pengguna. Beberapa perusahaan besar, seperti Galaxy Digital, bahkan menarik 25.000 ETH senilai US$67 juta dan 700 BTC senilai US$68,8 juta untuk menghindari risiko lebih lanjut. 

Perkiraan Harga 

Menurut Fyqieh, tekanan jual yang masih tinggi berpotensi membawa Bitcoin turun ke level US$80.000. Jika tekanan berlanjut, BTC bisa jatuh lebih dalam ke kisaran US$75.000 – US$78.000 sebelum mengalami pemulihan. 

Sementara itu, Ethereum juga berisiko melanjutkan tren penurunan. Jika aksi jual tidak mereda, ETH bisa turun ke US$2.000, dengan support selanjutnya berada di kisaran US$1.850 – US$1.950. 

Strategi di Tengah Pasar Volatil 

Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, Fyqieh menyarankan investor untuk menerapkan strategi yang lebih disiplin: 
• Trader jangka pendek disarankan untuk menghindari penggunaan leverage tinggi karena volatilitas masih tinggi dan dapat memicu likuidasi lebih lanjut. 
• Investor jangka panjang bisa mempertimbangkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dengan membeli di area support kuat seperti BTC di US$80.000 dan ETH di US$2.000. 
• Memantau arus masuk kembali ke ETF Bitcoin dan Ethereum, karena ini bisa menjadi indikator awal pemulihan pasar. 
• Mengikuti kebijakan The Fed serta kebijakan perdagangan AS, karena kedua faktor ini masih menjadi pemicu utama volatilitas di pasar. 
• Mencermati langkah mitigasi dari Bybit terhadap peretasan yang terjadi, guna mengantisipasi dampak lanjutan pada pasar kripto. 

Dalam kondisi ketidakpastian tinggi seperti saat ini, investor disarankan untuk tetap waspada, menerapkan manajemen risiko yang baik, serta mengatur strategi investasi dengan lebih hati-hati.