
BSI (BRIS) Raup Laba Bersih Naik 21,55% hingga November 2024, Ini Pendorongnya
- Salah satu pilar utama strategi BSI adalah pertumbuhan intermediasi yang konsisten. Hingga November 2024, total piutang pembiayaan BSI meningkat 16,81% (yoy) menjadi Rp273,79 triliun.
Korporasi
JAKARTA - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih sebesar 21,55% year-on-year (yoy) hingga November 2024, di tengah tekanan ekonomi global dan lonjakan tingkat bagi hasil. Keberhasilan ini mencerminkan strategi adaptif dan pengelolaan yang efisien oleh bank syariah terbesar di Indonesia.
Salah satu pilar utama strategi BSI adalah pertumbuhan intermediasi yang konsisten. Hingga November 2024, total piutang pembiayaan BSI meningkat 16,81% (yoy) menjadi Rp273,79 triliun, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah nasional yang berada di angka 11,24% (yoy).
BSI juga menunjukkan keberhasilan dalam mengelola portofolio pembiayaan. Pembiayaan bagi hasil naik signifikan sebesar 31,83% (yoy) menjadi Rp114,22 triliun, sementara pembiayaan sewa melonjak hingga 51,83% (yoy) menjadi Rp3,09 triliun. Langkah ini menunjukkan kemampuan BSI dalam memanfaatkan peluang pasar dan memperluas basis nasabah.
- Daftar 51 Titik SPKLU di Rest Area Tol Trans Jawa
- Simak, Inilah Jadwal Lengkap Pengumuman Seleksi CPNS 2024
- Daftar Pajak yang Harus Dibayar Pemilik Kendaraan di 2025
Dari sisi pendapatan, BSI mencatat pendapatan dari penyaluran dana sebesar Rp23,79 triliun, meningkat 13,34% (yoy). Namun, tantangan berupa lonjakan biaya bagi hasil sebesar 33,56% (yoy) menjadi Rp7,17 triliun tidak menghalangi BSI untuk mencatatkan pertumbuhan net imbal (NI) sebesar 6,37% (yoy), mencapai Rp16,61 triliun.
Keberhasilan BSI juga terlihat dari pendapatan komisi yang melonjak 32,34% (yoy) menjadi Rp2,06 triliun. Selain itu, bank ini berhasil menekan biaya provisi hingga 23,85% (yoy) menjadi Rp1,95 triliun, mencerminkan pengelolaan risiko yang lebih efisien.
Di tengah kompetisi industri perbankan, BSI agresif dalam menghimpun dana pihak ketiga (DPK), yang tumbuh 13,29% (yoy) menjadi Rp303,10 triliun. Peningkatan ini didorong oleh strategi diversifikasi produk dan optimalisasi layanan digital. Dana murah (CASA) BSI juga meningkat 13,27% (yoy) menjadi Rp187,28 triliun, menjaga rasio CASA di level 61,79%.
Sebagai hasil dari strategi pertumbuhan yang adaptif, total aset BSI per November 2024 mencapai Rp375,56 triliun, meningkat 17,19% (yoy). Liabilitas tumbuh 17,23% (yoy) menjadi Rp331,07 triliun, sementara ekuitas naik 16,89% (yoy) menjadi Rp44,48 triliun.
Dari segi profitabilitas, return on asset (ROA) BSI naik ke level 1,65%, sedangkan return on equity (ROE) mencapai 13,94%. Pencapaian ini menegaskan kekuatan strategi BSI dalam mempertahankan profitabilitas di tengah tantangan ekonomi.
Sementara itu, dari lantai bursa, saham yang menggunakan kode BRIS ditutup melemah 1,79% ke level Rp2.750 per saham. Kendati demikian, sepanjang tahun ini nilai emiten perhankan syariah ini telah menanjak 58,05%.