
Dampak Perubahan FTSE dan MSCI, Saham UNVR Tertekan pada Februari 2025
- Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun 4,44% menjadi Rp1.290 pada perdagangan Jumat, 21 Februari 2025, mencatatkan level terendah dalam 15 tahun. Sebanyak 37,42 juta saham UNVR diperdagangkan dalam 7.581 transaksi, dengan nilai transaksi mencapai Rp49,02 miliar.
Bursa Saham
JAKARTA - Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun 4,44% menjadi Rp1.290 pada perdagangan Jumat, 21 Februari 2025, mencatatkan level terendah dalam 15 tahun. Sebanyak 37,42 juta saham UNVR diperdagangkan dalam 7.581 transaksi, dengan nilai transaksi mencapai Rp49,02 miliar.
Investor asing pun tercatat melakukan net sell saham Unilever sebesar Rp26,6 miliar, dengan total transaksi jual mencapai Rp40,8 miliar. Dalam periode year-to-date (YTD), saham Unilever Indonesia anjlok 31,56%, dan turun 52,04% dalam setahun terakhir.
Di saat yang bersamaan, FTSE Russell mengumumkan hasil review semi tahunan FTSE Global Equity Index Series, di mana saham Unilever Indonesia dikeluarkan dari kategori Large Cap dan dipindahkan ke kategori Mid Cap. Perubahan ini akan berlaku efektif setelah penutupan pada Jumat, 21 Maret 2025.
- Bukan di Oppadrama-LK21, Berikut Cara Nonton Drakor Undercover High School
- Perluas Layanan, Inilah Opsi-opsi Pembiayaan Adira Finance di IIMS 2025
- 6 Rekomendasi Makanan Sahur yang Membantu Puasa Lebih Tahan Lama
Tekanan bertambah setelah MSCI mengumumkan hasil tinjauan MSCI Global Standard Indexes, yang juga mengeluarkan saham Unilever Indonesia dari perhitungan indeks MSCI. MSCI Inc. menyatakan bahwa semua perubahan akan berlaku pada penutupan 28 Februari 2025.
Di sisi lain, Unilever Indonesia membukukan laba sebesar Rp3,36 triliun pada tahun 2024, turun 30% dibandingkan dengan Rp4,8 triliun pada tahun 2023. Laba per saham untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2024 tercatat Rp88, lebih rendah dibandingkan dengan Rp126 pada tahun sebelumnya. Penjualan bersih perusahaan juga turun menjadi Rp35,13 triliun pada tahun 2024, dibandingkan dengan Rp38,61 triliun pada tahun 2023.
Estimasi laba Unilever Indonesia untuk tahun 2024, 2025, dan 2026 telah direvisi turun sebesar 16,6%, 16,2%, dan 15,3%. Revisi ini didorong oleh kinerja terbaru perusahaan. Vanessa Karmajaya, analis dari RHB Sekuritas, menyatakan bahwa meskipun ada potensi perbaikan laba pada semester II-2025, tantangan untuk pertumbuhan jangka panjang tetap ada.
Hingga akhir 2024, dampak boikot terhadap kinerja Unilever Indonesia mulai mereda, dengan pangsa pasar volume penjualan meningkat menjadi 28,3%. Pangsa nilai penjualan juga naik menjadi 34,7% pada Desember 2024, dibandingkan dengan 27,2% untuk volume dan 33,9% untuk nilai pada Desember 2023. Namun, angka-angka ini belum sepenuhnya pulih ke level Oktober 2023, yang tercatat sebesar 31,7% untuk volume dan 38,5% untuk nilai.
UNVR memperkirakan distribusi dividen dari pemisahan bisnis es krim akan terealisasi pada akhir 2025 atau awal 2026. Perusahaan mengindikasikan bahwa sektor fast-moving consumer goods (FMCG) dapat tumbuh sebesar 4% pada 2025, dengan target UNVR untuk melampaui angka tersebut.
Berdasarkan berbagai faktor tersebut, RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi netral untuk saham UNVR dengan target harga baru sebesar Rp1.580, turun dari sebelumnya Rp2.170, yang sudah mencakup premi ESG sebesar 8%.