logo
Ilustrasi industri multifinance.
IKNB

Dinamika Multifinance 2024 & 2025: Tren, Hambatan, dan Harapan Baru

  • Industri pembiayaan masih menghadapi sejumlah tantangan pada 2025, salah satunya adalah kondisi geopolitik global yang dapat mempengaruhi perekonomian, termasuk daya beli masyarakat dan penjualan kendaraan bermotor.

IKNB

Idham Nur Indrajaya

JAKARTA - Industri pembiayaan mencatat pertumbuhan yang lebih lambat pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), piutang pembiayaan perusahaan multifinance hanya tumbuh 6,92% secara tahunan (yoy) menjadi Rp503,43 triliun per Desember 2024.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama pertumbuhan industri pembiayaan yang tidak mencapai double digit adalah penurunan penjualan kendaraan bermotor. 

"Penjualan kendaraan bermotor mengalami perlambatan, yang turut berdampak pada pertumbuhan industri pembiayaan," ujarnya melalui jawaban tertulis, dikutip Kamis, 20 Februari 2025.

Proyeksi Pertumbuhan Multifinance pada 2025 

Meski pertumbuhan pada 2024 tergolong rendah, OJK optimistis piutang pembiayaan perusahaan multifinance masih dapat tumbuh positif pada 2025. 

"Kami memproyeksikan pertumbuhan piutang pembiayaan pada 2025 berada di kisaran 8%-10% yoy, dengan mempertimbangkan kondisi pasar, termasuk tren penjualan kendaraan," kata Agusman.

Tantangan dan Peluang bagi Industri Multifinance 

Industri pembiayaan masih menghadapi sejumlah tantangan pada 2025, salah satunya adalah kondisi geopolitik global yang dapat mempengaruhi perekonomian, termasuk daya beli masyarakat dan penjualan kendaraan bermotor. 

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan kendaraan bermotor pada 2024 mengalami penurunan 13,93% yoy menjadi 865.723 unit dari 1.005.802 unit pada tahun sebelumnya.

Namun, Agusman menekankan bahwa masih terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan oleh industri pembiayaan. "Kami melihat peluang pertumbuhan dalam diversifikasi produk pembiayaan, termasuk pembiayaan kendaraan listrik dan pembiayaan berbasis digital yang semakin diminati masyarakat," jelasnya.

Komposisi Piutang Pembiayaan 

Berdasarkan data OJK per Desember 2024, piutang pembiayaan industri multifinance mencapai Rp503,43 triliun, dengan komposisi sebagai berikut:

  1. Pembiayaan Multiguna: 50,42%
  2. Pembiayaan Investasi: 33,87%
  3. Pembiayaan Modal Kerja: 9,91%
  4. Pembiayaan lainnya: 0,34%
  5. Pembiayaan berbasis syariah: 5,45%

Tren Pembiayaan Kendaraan Bermotor 

Meski terjadi penurunan penjualan kendaraan, penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor justru meningkat 11,91% yoy menjadi Rp402,43 triliun per Desember 2024. 

Namun, pertumbuhan pembiayaan kendaraan pada 2025 diperkirakan menghadapi tantangan, sejalan dengan tren penurunan penjualan kendaraan bermotor yang terjadi pada 2024.

"Kami melihat pertumbuhan pembiayaan kendaraan bekas masih memiliki potensi, terutama mengingat daya beli masyarakat yang cenderung memilih kendaraan bekas sebagai alternatif yang lebih ekonomis," ungkap Agusman.

Perkembangan Buy Now Pay Later (BNPL) di Multifinance

Segmen pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan multifinance juga mengalami pertumbuhan signifikan, dengan kenaikan sebesar 37,6% yoy menjadi Rp6,82 triliun. 

"Pembiayaan BNPL masih didominasi oleh sektor e-commerce dan memiliki prospek positif seiring dengan meningkatnya transaksi digital di Indonesia," ujar Agusman.

Meskipun perbankan juga mulai menawarkan layanan BNPL, Agusman menegaskan bahwa hal ini tidak serta merta menghambat pertumbuhan BNPL di industri multifinance. 

"BNPL oleh perusahaan multifinance tetap memiliki peluang untuk berkembang dengan menyesuaikan model bisnis dan kolaborasi dengan ekosistem digital yang ada," tambahnya.

Kinerja dan Prospek Pembiayaan Kendaraan Listrik 

Pembiayaan kendaraan listrik juga menunjukkan pertumbuhan positif, dengan total penyaluran mencapai Rp16,61 triliun per November 2024, atau setara dengan 1,81% dari total piutang pembiayaan. 

Dengan adanya dukungan pemerintah dalam membangun ekosistem kendaraan listrik, OJK optimistis bahwa pembiayaan kendaraan listrik masih memiliki potensi besar untuk terus berkembang.

Pembiayaan Syariah: Tren dan Prospek 

Piutang pembiayaan syariah juga mengalami pertumbuhan sebesar 10,11% yoy menjadi Rp27,43 triliun per Desember 2024. Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan pembiayaan investasi dan pembiayaan jasa. 

"Kami melihat bahwa tren pembiayaan syariah akan terus meningkat, terutama dengan adanya diversifikasi produk syariah yang semakin menarik bagi masyarakat," jelas Agusman.

Dengan berbagai tantangan dan peluang yang ada, industri multifinance di Indonesia diharapkan dapat terus berkembang secara berkelanjutan dengan strategi yang adaptif terhadap perubahan pasar dan kebutuhan konsumen.