
IHSG Beri Sinyal Tidak Pede dengan Danantara
- Peluncuran Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) belum mampu mengungkit performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bursa saham RI justru merosot semakin dalam pada perdagangan sesi I Selasa, 25 Februari 2025.
Bursa Saham
JAKARTA—Peluncuran Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) belum mampu mengungkit performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bursa saham RI justru merosot semakin dalam pada perdagangan sesi I Selasa, 25 Februari 2025.
Pengamat menilai kehadiran Danantara belum memberikan kepercayaan diri bagi investor. Alih-alih mendatangkan investasi baru, capital outflow justru tengah membayangi bursa Indonesia. Kondisi itu juga tak lepas dari pemangkasan rating saham RI dari “equal weight” menjadi “underweight” oleh Morgan Stanley.
Pantauan TrenAsia.com, IHSG sesi I Selasa, 25 Februari 2025, ditutup anjlok 158,16 poin atau jatuh 2,34% dari penutupan perdagangan hari sebelumnya menuju posisi 6.591,43. IHSG bahkan sempat menyentuh angka 6.588,77. Tekanan jual cukup deras sejak pembukaan, dengan rentang perdagangan pada area 6.772,65 dan sempat menyentuh 6.640,11.
Saham barang baku, konsumen non primer, dan perindustrian menjadi yang terbanyak anjlok, masing-masing turun 3,67%, 2,81%, dan 2,80%. Adapun saham energi ambles 2,66% dan saham properti melemah 1,90%.
Kelola Aset Ribuan Triliun
Hal tersebut melanjutkan tren penurunan IHSG pada hari sebelumnya, atau saat peresmian Danantara, Senin, 24 Februari 2025. Sebagai informasi, Danantara akan mengelola sekitar US$900 miliar atau sekitar Rp14.616 triliun aset dalam pengelolaan. Seluruh BUMN akan masuk ke gerbong sovereign wealth fund tersebut sebelum akhir Maret.
Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, menilai investor pasar modal tidak terlalu percaya diri dengan peluncuran Danantara. Hal itu terlihat dari pergerakan saham yang terus melemah. “IHSG terkontraksi cukup dalam,” ujar Andry dalam keterangannya, dikutip Selasa.
Pihaknya turut menyoroti sejumlah saham pelat merah di bawah pengelolaan Danantara yang juga berdarah usai peresmian lembaga baru tersebut. Hingga Selasa pukul 14.12 WIB, saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) bahkan sudah berada di posisi 3.810, melemah 110 poin dibanding hari sebelumnya.
Angka itu hampir mendekati nilai terendah BBRI setahun terakhir yakni 3.800. “Menurut saya ini menjadi alarm, apakah pasar cukup confident (dengan Danantara)? Kalau dilihat dari responsnya, seperti tidak begitu confident,” tutur Andry.
Baca Juga: Downgrade Saham RI Iringi Peresmian Danantara
Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menilai Danantara akan kesulitan mengelola semua BUMN mengingat setiap usaha punya karakteristik yang berbeda. Apalagi, imbuhya, tidak semua BUMN dalam keadan sehat.
Dia menyebut pemerintah mestinya membentuk holding BUMN lebih dulu sebelum mengarah ke superholding seperti Danantara. “BUMN disehaatkan dulu. Jika tidak, akan jadi beban bagi BUMN yang sehat,” ujarnya dalam sebuah diskusi daring, Senin, 24 Februari 2025.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro ini juga mendorong pemerintah adanya transparansi dalam setiap pengambilan keputusan investasi. Artinya, keuangan Danantara juga perlu diaudit berkala. “Tata kelola yang baik jadi kunci masa depan Danantara,” ujarnya.