logo
ukraina.jpg
Dunia

Inggris Siap Kerahkan Pasukan ke Ukraina, Sanggupkah?

  • tarmer mengakui tanggung jawab besar yang menyertai kemungkinan penempatan pasukan perdamaian Inggris di wilayah konflik tersebut.

Dunia

Muhammad Imam Hatami

JAKARTA - Ketegangan di kawasan Eropa semakin memanas setelah Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan kesiapan negaranya untuk mengerahkan pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina jika diperlukan. 

Pernyataan ini menegaskan komitmen Inggris dalam memastikan keamanan Ukraina, terutama di tengah ancaman agresi Rusia yang terus berlanjut. Starmer juga mengungkapkan bahwa Inggris akan memberikan dukungan militer senilai 3 miliar poundsterling per tahun atau sekitar Rp61,2 triliun (kurs Rp20.420) hingga 2030, sebuah langkah yang mengindikasikan keseriusan London dalam menghadapi situasi ini.

Keputusan untuk mengirim pasukan ke Ukraina bukanlah hal yang ringan. Starmer mengakui tanggung jawab besar yang menyertai kemungkinan penempatan pasukan perdamaian Inggris di wilayah konflik tersebut. 

"Saya merasa sangat bertanggung jawab atas kemungkinan menempatkan prajurit pria dan wanita Inggris dalam bahaya." terang Starmer seperti yang tayang di laman Daily Telegraph, dilansir Senin, 17 Februari 2024.

Meski demikian, ia menegaskan peran ini sangat penting untuk menjaga keamanan Eropa secara keseluruhan, serta mendukung stabilitas negara-negara anggota NATO. Menurutnya hal ini bukan hanya tentang Ukraina, ini tentang keamanan kolektif seluruh anggota Nato.

"Berakhirnya perang Rusia dengan Ukraina, jika sudah tiba, tidak bisa hanya menjadi jeda sementara sebelum Putin menyerang lagi," tambah Starmer.

Pengumuman Sir Keir muncul setelah mantan kepala Angkatan Darat Inggris Lord Dannatt mengatakan militer Inggris sangat lemah sehingga tidak dapat memimpin misi penjaga perdamaian di Ukraina di masa mendatang.

Lord Dannatt  yang menjabat sebagai kepala Angkatan Darat dari tahun 2006 hingga 2009 menambahkan, hingga 40.000 tentara Inggris akan dibutuhkan secara bergiliran untuk misi penjaga perdamaian di Ukraina. “Inggris Ingris tidak memiliki jumlah yang tersedia,” katanya dikutip BBC.

Ia mengatakan secara total pasukan untuk menjaga perdamaian akan membutuhkan sekitar 100.000 tentara di lapangan,  dan Inggris harus menyediakan sebagian besar dari jumlah itu. Melihat situasi ini Inggris akan kesulitan jika harus mengirim pasukan setidaknya dalam jumlah besar ke Ukraina.

Inggris saat ini menghabiskan sekitar 2,3% dari PDB untuk pertahanan. London juga telah berkomitmen untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan hingga 2,5% dari perekonomian tanpa memberikan kerangka waktu untuk ini. Presiden Amerika Donald Trump di sisi lain telah meminta anggota NATO untuk membelanjakan 5% dari PDB untuk pertahanan. Sedangkan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte telah menyarankan sekutu harus membelanjakan lebih dari 3%.

Trump Telepon Putin

Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin terus menunjukkan sikapnya yang ambigu terkait konflik di Ukraina. Dalam percakapan telepon dengan mantan Presiden AS Donald Trump, Putin menekankan pentingnya mencapai perdamaian jangka panjang di wilayah tersebut. 

Trump, yang dikenal dekat dengan Putin, menyebutkan bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah menunjukkan kesediaan untuk mencapai kesepakatan.

Trump juga mengisyaratkan kemungkinan pertemuan lanjutan dengan Putin dalam waktu dekat, yang bisa menjadi upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan.

Melihat kemesraan Trumph - Putin, Starmer ikut mencak - mencak, ia tak henti-hentinya mendorong negara-negara Eropa untuk meningkatkan belanja pertahanan dan berperan lebih aktif dalam NATO. 

Starmer juga mengutip pernyataan Trump yang mendesak Eropa untuk bertindak lebih cepat dalam hal pertahanan. Menurutnya dalam situasi seperti sekarang, Eropa tak bisa hanya mengandalkan Amerika Serikat. 

Starmer meminta Eropa untuk mandiri dan siap menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks.

"Kita menghadapi momen yang hanya terjadi sekali dalam satu generasi demi keamanan kolektif benua kita. Ini bukan hanya masalah masa depan Ukraina. Ini masalah eksistensial bagi Eropa secara keseluruhan." tambah Stermer.

Melihat perkembangan situasi yang semakin panas, kemungkinan pasukan Inggris dan Rusia berhadapan secara langsung di Ukraina semakin nyata. Jika hal ini terjadi, konflik di Ukraina bisa berubah menjadi medan pertempuran yang melibatkan kekuatan global, dengan risiko eskalasi yang sulit diprediksi. 

Eropa pun berada di persimpangan jalan: antara menjaga perdamaian atau terjebak dalam konflik bersenjata yang berkepanjangan.

Satu hal yang pasti, dunia sedang menantikan langkah-langkah selanjutnya dari para pemimpin ini. Apakah diplomasi akan menang, atau justru kekuatan militer yang akan berbicara? Hanya waktu yang akan menjawab.