
Lagu Sukatani Bakar Massa Aksi pada Demo Indonesia Gelap di Jakarta
- Selain mahasiswa, elemen masyarakat mulai dari buruh, emak-emak hingga pecinta K-pop ikut turut ke jalan. Yang menarik, mereka turut menyanyikan lagu milik Sukatani berjudul “Bayar, Bayar, Bayar" di sela aksi. Lagu itu diputar lewat pengeras suara dari mobil komando orasi.
Nasional
JAKARTA - Ribuan massa aksi membanjiri demonstrasi bertajuk "Indonesia Gelap" di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Jumat sore, 21 Februari 2024. Aksi ini dimulai dengan berkumpulnya massa di Taman Ismail Marzuki (TIM) sebelum melakukan long march menuju lokasi utama unjuk rasa di kawasan patung kuda, Gambir, Jakarta.
Pantauan di lapangan, sebanyak 2.500 mahasiswa dari Karawang, Bogor, Bekasi, dan daerah lainnya turut serta dalam aksi ini. Para demonstran sepakat untuk tidak mengenakan almamater kampus guna menghindari sekat identitas dan menunjukkan solidaritas tanpa embel-embel institusi akademik.
Selain mahasiswa, elemen masyarakat mulai dari buruh, emak-emak hingga pecinta K-pop ikut turut ke jalan. Yang menarik, mereka turut menyanyikan lagu milik Sukatani berjudul “Bayar, Bayar, Bayar" di sela aksi. Lagu itu diputar lewat pengeras suara dari mobil komando orasi.
Sontak massa aksi kompak menyanyikan lagu yang tengah viral tersebut. Diketahui, lagu “Bayar, Bayar, Bayar” membuat Sukatani harus meminta maaf pada Kapolri menyusul kritik terhadap polisi di lagu tersebut. Band punk asal Purbalingga itu bahkan harus menarik lagu tersebut di semua layanan streaming.
Pendemo beberapa kali menyanyikan lagu Sukatani di depan aparat kepolisian yang mengawal demo. Polisi tidak merespons aksi dari para pendemo. Sebagai langkah antisipasi, Polda Metro Jaya mengerahkan 2.460 personel gabungan yang terdiri dari kepolisian, TNI, serta personel dari Pemprov DKI Jakarta dan instansi terkait.
"Dalam rangka pengamanan aksi penyampaian pendapat dari sejumlah aliansi, kami melibatkan 2.460 personel gabungan," ujar Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Susatyo Purnomo Condro, pada awak media, Jumat.
- Perjalanan Respati Ardi, Wali Kota Solo Penerus Gibran Rakabuming
- Hendrik Lewerissa, Gubernur Termiskin yang Punya Utang Rp900 Juta
- Menilik Dukungan Fiskal hingga Politik untuk Program 3 Juta Rumah
Polisi juga telah menutup ruas Jalan Medan Merdeka Barat guna mengamankan jalannya demonstrasi. Rekayasa lalu lintas di sekitar lokasi dilakukan secara situasional sesuai perkembangan di lapangan.
Kapolda Metro Jaya menegaskan, pendekatan persuasif dan humanis akan diutamakan dalam pengamanan aksi ini. "Polisi akan mengedepankan negosiasi, pelayanan humanis, serta menjaga keamanan dan keselamatan," tambah Susatyo.
Massa Bertahan Meski Hujan
Sekitar pukul 16.00 WIB, hujan mulai turun di kawasan Patung Kuda. Meski demikian, massa tetap bertahan di lokasi aksi dengan menggunakan payung dan jas hujan. Beberapa demonstran bahkan membeli jas hujan dari pedagang di sekitar lokasi.
Situasi sempat memanas sekitar pukul 16.05 WIB ketika terdengar suara letusan petasan yang dinyalakan oleh massa aksi. Beberapa demonstran juga terlihat melempar botol air mineral ke arah aparat kepolisian.
Orator aksi segera mengingatkan massa agar tetap waspada terhadap potensi provokasi. Sementara itu, pihak kepolisian mengimbau demonstran untuk tidak melempar benda apa pun yang dapat memperkeruh situasi.
- Perjalanan Respati Ardi, Wali Kota Solo Penerus Gibran Rakabuming
- Hendrik Lewerissa, Gubernur Termiskin yang Punya Utang Rp900 Juta
- Menilik Dukungan Fiskal hingga Politik untuk Program 3 Juta Rumah
Akibat aksi ini, kepadatan lalu lintas terjadi di sekitar kawasan Monas dan Patung Kuda. Warga yang melintas diimbau untuk mencari jalur alternatif guna menghindari kemacetan.
"Rekayasa arus lalu lintas akan diberlakukan melihat perkembangan dan dinamika situasi di lapangan," tambah Susatyo. Polisi juga mengingatkan agar aksi unjuk rasa berlangsung secara damai dan tidak merusak fasilitas umum.