logo
Karyawan melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta,   Selasa, 7 Juni 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
Bursa Saham

Memilih Instrumen Investasi yang Tepat di Tengah Fluktuasi Harga Emas dan IHSG (Bagian II)

  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga emas global bergerak tak seirima pada perdagangan Rabu, 12 Februari 2025. Situasi pun menjadi pertanyaan mendasar bagi investor terkait prospek dunia investasi ke depan.

Bursa Saham

Alvin Pasza Bagaskara

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga emas global bergerak tak seirima pada perdagangan Rabu, 12 Februari 2025. Situasi pun menjadi pertanyaan mendasar bagi investor terkait prospek dunia investasi ke depan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG berhasil memutus reli pelemahan selama lima hari berturut-turut dengan penguatan 1,74% ke level 6.645,78. Penguatan ini didorong oleh beberapa saham blue chip.

Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menjadi penopang utama kinerja IHSG setelah menguat 6,90% dan menyumbang kenaikan 18,51 poin indeks. Selain itu, sejumlah saham konglomerasi juga kembali diperdagangkan di zona hijau setelah beberapa hari mengalami penurunan.

Saham-saham tersebut antara lain PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang naik 11,28%, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang naik 5,90%, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang naik 4,15%.

Kendati berhasil mengalami penguatan, rapor IHSG secara year to date juga masih menunjukkan minus 6,13%. Selain itu, selama perdagangan tersebut, terpantau masih ada investor asing yang melakukan net sell dengan transaksi Rp440 miliar. 

Tuah Powell

Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, menjadi katalis positif yang mengangkat IHSG pada hari ini. Powell menekankan bahwa fokus utama bank sentral adalah pengendalian inflasi dan mengisyaratkan bahwa para pembuat kebijakan tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga. Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan Komite Perbankan Senat Amerika Serikat.

Selain itu, Powell juga menyebutkan bahwa perekonomian AS secara keseluruhan tetap kuat, dengan pasar tenaga kerja yang solid dan inflasi yang mereda meskipun masih berada di atas target The Fed sebesar 2%. 

“Pasar pun mencerna bahwa meski kebijakan pelonggaran suku bunga yang terlalu cepat bisa mengganggu kemajuan penurunan inflasi, langkah yang terlalu lambat dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi,” kata mereka.

Pilarmas juga mencatat bahwa pasar terus memperhatikan dampak dari kebijakan tarif terbaru Presiden Donald Trump. Dalam sebuah wawancara, Trump menyatakan telah berbicara dengan Presiden China Xi Jinping dan menyoroti hubungan pribadi yang sangat baik antara keduanya. 

“Pasar melihat percakapan ini sebagai sinyal penting terkait kemungkinan pelonggaran atau penundaan tarif perdagangan yang sedang berlangsung,” ungkap Pilarmas.

Dari sisi domestik, Pilarmas melaporkan bahwa pasar masih memantau kondisi eksternal, namun data terbaru dari Bank Indonesia menunjukkan penjualan eceran Indonesia meningkat 1,8% pada Desember 2024. 

“Proyeksi untuk Januari 2025 pun menunjukkan bahwa penjualan eceran diperkirakan akan tetap tumbuh, dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diprediksi mencapai 211,3, tumbuh 0,4% secara tahunan,” jelas Pilarmas.

Sentimen Emas

Sebaliknya, harga emas yang belakangan ini melejit, pada perdagangan hari ini terpantau mengalami pelemahan. Harga emas dunia di pasar spot turun 0,34% ke level US$2.897,56 per troy ons. Penurunan ini didorong oleh aksi profit taking. 

Sebelum ditutup melemah, harga emas dunia sempat menyentuh rekor baru pada perdagangan intraday di level US$2.942,7 per troy ons atau mencatatkan rekor tertinggi. Oleh sebab itu, sebagian masih optimis terhadap kenaikan harga emas akibat kekhawatiran perang dagang global yang dipicu oleh tarif impor yang dinaikkan oleh Presiden AS, Donald Trump. Trump menaikkan tarif baja dan aluminium menjadi 25%, yang dapat memicu perang dagang.

Para trader kini menunggu data inflasi AS dan pengumuman dari The Fed terkait suku bunga. Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam testimoninya menegaskan bahwa The Fed tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga. Hal ini mempengaruhi prospek emas, karena kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Berkaitan dengan prospek ke depan, data yang dihimpun Bloomberg, rmengungkapkan ata-rata harga emas berdasarkan konsensus sejumlah analis global diperkirakan berada di level US$2.675 per troy ounces pada kuartal I-2025, dan meningkat menjadi US$2.750 per troy ounces pada kuartal II-2025. 

Salah satu firma yang menyampaikan proyeksi harga emas ialah JP Morgan Chase & Co., yang memperkirakan harga emas akan naik secara gradual, dari US$2.750 pada kuartal I/2025 menjadi US$2.850 pada kuartal II/2025, US$2.900 pada kuartal III/2025, dan US$2.950 per troy ounces pada kuartal IV-2025. 

Sementara itu, Standard Chartered Bank meramal harga emas akan berada di level US$2.700 per troy ounces pada kuartal I-2025 dan naik menjadi US$2.900 per troy ounces pada kuartal II-2025. Namun, emas diperkirakan akan melandai ke kisaran US$2.700 per troy ounces pada paruh kedua tahun ini.

Pilih Emas atau IHSG?

Berdasarkan data yang ada, investasi pada emas dan IHSG memiliki prospek yang berbeda. Meskipun harga emas sempat mencatatkan rekor tertinggi, aksi profit taking menyebabkan harga emas mengalami pelemahan, dengan penurunan 0,34% ke level US$2.897,56 per troy ons. Meskipun ada optimisme terhadap kenaikan harga emas akibat kekhawatiran perang dagang global, prospek emas terpengaruh oleh kebijakan The Fed terkait suku bunga, yang dapat mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Di sisi lain, IHSG mengalami penguatan 1,74% ke level 6.645,78, didorong oleh saham-saham blue chip seperti TLKM yang menguat 6,90%. Namun, meskipun mengalami penguatan, IHSG masih menunjukkan minus 6,13% secara year to date. Hal ini menunjukkan adanya volatilitas yang perlu diperhatikan bagi investor yang memilih untuk berinvestasi di pasar saham Indonesia.

Pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh sentimen eksternal, seperti pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang menekankan fokus utama pada pengendalian inflasi dan mengisyaratkan tidak terburu-buru menurunkan suku bunga. Hal ini memberikan dampak positif bagi pasar saham, meskipun terdapat kekhawatiran terkait dampak tarif perdagangan yang lebih tinggi yang dapat memengaruhi stabilitas pasar global.

Secara keseluruhan, keputusan investasi antara emas dan IHSG tergantung pada profil risiko dan tujuan investasi. Emas cenderung lebih stabil dan berpotensi menjadi pelindung nilai dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, sementara IHSG menawarkan potensi keuntungan yang lebih tinggi namun juga dengan tingkat volatilitas yang lebih besar.