logo
Gedung Telkom di kawasan Jl Gatot Subroto Jakarta. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia
Bursa Saham

Mereka yang Curi Start di Tengah Rencana Buyback Saham Telkom (TLKM)

  • Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) belakangan hari telah menarik perhatian investor asing. Hal ini didorong oleh rencana aksi buyback alias pembelian saham kembali oleh perseroan.

Bursa Saham

Bagaskara

Bagaskara

Author

JAKARTA – Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) belakangan hari telah menarik perhatian investor asing. Hal ini didorong oleh rencana aksi buyback alias pembelian saham kembali oleh perseroan. 

Direktur Utama Telkom Indonesia, Ririek Adriansyah, pada Selasa, 18 Februari 2025 menyatakan bahwa rencana pembelian kembali saham Telkom akan segera diumumkan oleh perseroan pada waktunya.

Sebagai informasi, sepanjang tahun lalu, saham TLKM, yang bergerak di bidang teknologi, mengalami penurunan sekitar 23%. Sementara itu, hingga perdagangan sesi I, Kamis 20 Februari 2025, saham TLKM terpantau % ke level Rp per saham.

Kendati demikian, pada perdagangan kemarin, saham TLKM terpantau diborong oleh investor asing dengan transaksi mencapai Rp116 miliar. Sementara itu, jika mengukur satu minggu terakhir saham ini dikoleksi asing sebanyak Rp368 miliar. 

Dari sisi broker, CGS CIMB Sekuritas Indonesia menjadi yang teraktif saham ini dengan transaksi Rp85,7 miliar. Ini disusul UBS Sekuritas dan OCBC Sekuritas yang masing-masing mengkoleksi saham ini sebanyak Rp64 miliar dan Rp15,3 miliar. 

Sementara itu, dari sisi big fund, ada Royal Bank of Canada, yang menambah 568,78 juta lembar saham sepanjang 2024 dan memiliki 782,39 juta lembar pada awal 2025, menempati peringkat keenam. 

Selanjutnya ada T Rowe Price Group Inc juga memperbesar kepemilikannya dengan menambah 652,12 juta lembar saham TLKM, mencapai lebih dari 652,15 juta lembar pada awal 2025, menduduki peringkat kesembilan. Sementara itu, Norges Bank mengakumulasi 577,53 juta lembar saham TLKM, dengan total 584,49 juta lembar pada Februari 2025, berada di peringkat kesepuluh.

Sementara itu, analis CGS International Sekuritas, Bob Setiadi dan Rut Yesika Simak, dalam risetnya mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham TLKM, karena saham ini menawarkan yield dividen yang menarik, yaitu sebesar 7,3%-7,6% pada 2025-2026. 

CGS International Sekuritas menyebutkan bahwa pihaknya menunggu kinerja TLKM untuk tahun 2024 yang akan dipublikasikan pada pertengahan Maret 2025. Risiko bagi saham TLKM, menurut CGS International, datang dari potensi membanjirnya pasokan kartu SIM dari pesaing dan biaya spektrum yang lebih tinggi dari perkiraan. 

Di samping itu, katalis positif bagi saham TLKM berasal dari kenaikan harga yang berkelanjutan dalam paket seluler, keberhasilan implementasi sistem satu tagihan, dan program pengurangan biaya.

Selain itu, mayoritas analis punya pandangan positif untuk saham TLKM. Dari 39 analis yang mengulas saham TLKM, sebanyak 34 memberikan rekomendasi beli, sementara 5 lainnya menyarankan tahan.  

Target harga saham TLKM rata-rata menurut para analis ialah Rp3.607,50 untuk 12 bulan ke depan. Target harga saham TLKM itu menggambarkan potensi return sebesar 34,6% dari harga terakhir yang berada pada Rp2.680 per lembar.