
Pasukan Rusia Bersiap Rebut Deposit Lithium Raksasa Ukraina
- Litium merupakan sumber daya global yang sangat dibutuhkan karena penggunaannya dalam berbagai industri dan teknologi.
Dunia
JAKARTA- Rusia, seperti Presiden Amerika Donald Trump mengingini sumber daya alam Ukraina. Dan di lapangan pasukannya sedang mendekati deposit lithium raksasa.
Pasukan Rusia telah merebut seperlima wilayah Ukraina termasuk cadangan tanah jarang. Mereka kini hanya berjarak kurang dari 6,5 km dari deposit litium Shevchenko. Pasukan maju ke sana dari tiga sudut berbeda. Hal itu terungkap dari data sumber terbuka dari blog militer Ukraina, Deep State.
Litium merupakan sumber daya global yang sangat dibutuhkan karena penggunaannya dalam berbagai industri dan teknologi. Mulai dari telepon seluler hingga mobil listrik. Menurut perkiraan pemerintah AS Ukraina memiliki cadangan sekitar 500.000 ton dan Rusia memiliki cadangan dua kali lipatnya.
Shevchenko berlokasi di Donetsk. Satu dari empat wilayah Ukraina yang diklaim Moskow sebagai wilayahnya sendiri. Wilayah ini merupakan salah satu endapan litium terbesar di Ukraina dan berada pada kedalaman yang memungkinkan penambangan komersial.
- Ciliandra Fangiono, Konglomerat Termuda Indonesia yang Punya Harta US$2,4 Miliar
- Mesir Dan Negara Arab Janji Bangun Gaza, Optimistis Rekonstruksi Selesai dalam Tiga Tahun
- Sukatani, Intimidasi dan Lagu Sindiran untuk Polri
Mengingat kecepatan medan perang saat ini, kemungkinan besar Rusia akan mencapai daerah ini dalam beberapa minggu mendatang. “Penyitaan kekayaan mineral Ukraina, meskipun bukan tujuan perang utama, merupakan salah satu tujuan strategis Rusia,” kata Konrad Muzyka sebagaimana dikutip Reuters Kamis 20 Februari 2025. Konrad adalah Direktur konsultan militer Rochan di Polandia yang baru saja kembali dari perjalanan penelitian ke Ukraina.
Dia menambahkan para komandan Ukraina yang dia ajak bicara mengatakan, ketika mereka melihat ke arah mana dan pada poros mana Rusia menyerang, jelas bahwa tujuan mereka juga untuk merebut sumber daya alam.
Vladimir Ezhikov, pejabat senior yang ditunjuk Rusia di Donetsk mengatakan bahwa divisi pertambangan perusahaan nuklir negara Rusia Rosatom telah menunjukkan minatnya pada deposit Shevchenko. Tetapi kementerian sumber daya alam Rusia akan mengeluarkan izin pertambangan ketika saatnya tiba. Dia mengakui sulit untuk memprediksi kapan ini akan terjadi.
“Saat ini endapan tersebut berada di zona abu-abu tidak ada kemungkinan untuk mengembangkannya karena aksi militer. Namun deposit ini pasti akan menemukan pemegang lisensinya. Pasti akan ada investasi dan penambangan litium,” katanya.
Trump baru-baru ini mengatakan ia ingin Kyiv menyerahkan sejumlah besar mineral pentingnya sebagai imbalan atas dukungan militer Amerika. Hal ini mendorong Presiden Ukraina Volodymr Zelenskiy untuk menyatakan siap untuk membuat kesepakatan. Namun Kyiv menolak proposal yang ditawarkan Washington karena dinilai keterlaluan.
Amerika ingin mendapatkan 50 persen dari semua pendapatan mineral Ukraina. Selain itu kesepakatan yang ditawarkan tidak mencakup jaminan keamanan yang memadai. Washington dan Moskow bersiap untuk berunding guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga tahun, realitasnya adalah Vladimir Putin yang akan mengambil alih kendali kekayaan Ukraina.
Zelenskiy, dalam sebuah wawancara dengan Reuters membuka peta yang memperlihatkan banyak endapan mineral. Ini termasuk sebidang tanah luas di timur yang ditandai mengandung tanah jarang. Sekitar setengahnya tampak berada di sisi Rusia di garis depan saat ini. Peta itu sebelumnya dirahasiakan.
Ia mengatakan Rusia mengetahui secara rinci di mana sumber daya penting Ukraina berada. Data itu dari survei geologi era Soviet yang telah dibawa ke Moskow ketika Kyiv memperoleh kemerdekaan pada tahun 1991.
Kehilangan Kendali
Ada sedikit perkiraan independen yang dapat diandalkan tentang berapa proporsi sumber daya alam Ukraina yang saat ini dikuasai Moskow. Yang tidak terbantahkan adalah bahwa Ukraina secara bertahap kehilangan kendali atas kekayaan mineralnya. Pasukan Rusia telah menguasai wilayah timur selama berbulan-bulan, mengerahkan sumber daya yang besar untuk serangan gencar.
Vasily Koltashov seorang ekonom dan analis politik mengatakan, keinginan Trump untuk kesepakatan mineral besar akan terbukti akademis jika Ukraina kalah perang. “Bukan dia dan keinginannya terhadap logam tanah jarang yang akan menentukan siapa yang akan mendapatkan apa. Rusia menang di medan perang,” katanya.
- LK21- Layarkaca21 Ilegal, Berikut 7 Situs Nonton Drama Korea yang Legal
- Bank Mandiri Makin Hijau! Skor ESG Terbaik di KBMI IV versi Sustainalytics
- Dorong Peningkatan Kualitas Pegawai, Bank Mandiri Penuhi Dua Standar Internasional
Bagi banyak orang Rusia, merebut sumber daya alam Ukraina juga merupakan hadiah besar dalam konflik tersebut. Denis Pushilin, pejabat tinggi Donetsk yang didukung Rusia memicu serangkaian berita utama yang menggembirakan di pers Rusia bulan lalu. Saat itu dia secara tidak benar mengklaim bahwa deposit Shevchenko telah disita. Dia mengacaukannya dengan penyitaan pemukiman lain dengan nama yang sama di tempat lain.
Pertemuan puncak Putin-Trump semakin dekat. Dan perundingan Amerika -Rusia untuk memulihkan hubungan dan mempertimbangkan cara mengakhiri perang sedang berlangsung. Juru bicara Putin, Dmitry Peskov mengatakan bahwa usulan presiden Amerika menunjukkan bahwa ia ingin Ukraina membayar bantuan Amerika di masa mendatang.
Sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova telah berbicara lebih blak-blakan. Dia menuduh Zelenskiy menawarkan sumber daya kepada Washington yang tidak lagi ia kendalikan. Ini mengingat garis depan yang berubah-ubah. Ia juga menarik persamaan antara keinginan Trump atas kekayaan mineral Ukraina dan bagaimana Nazi yang menduduki negara itu merampasnya selama Perang Dunia Kedua.
Dia menyebut selama Perang Dunia Kedua, wilayah bekas Uni Soviet Ukraina direbut. Dan Nazi mulai menjarah ekonomi nasional republik itu. Pasukan Jerman mencuri ternak dari wilayah Ukraina dan mengangkut tanah hitam. Sekarang semua ini terjadi tanpa kekerasan. Karena rezim Kyiv menyerahkan semuanya.
Kyiv dan Washington sama-sama menolak tuduhan bahwa Amerika Serikat secara tidak adil berusaha mengeksploitasi kekayaan sumber daya Ukraina. Mereka mengatakan kesepakatan atas sumber daya tersebut merupakan kepentingan komersial dan keamanan bersama.