logo
Sebuah Truk Membongkar Berton-Ton Batu Bara di Dalam Gudang di Kota Tondo, Metro Manila (Reuters/Romeo Ranoco)
Bursa Saham

Pelemahan Harga Batu Bara, Bagaimana Arah Saham BUMI, ADRO, dan PTBA?

  • Sejumlah saham batu bara, termasuk ADRO, BUMI, dan UNTR, bergerak variatif pada 17 Februari 2025. Situasi bersamaan dengan harga emas hitam global yang mengalami pelemahan selama satu minggu terakhir.

Bursa Saham

Bagaskara

Bagaskara

Author

JAKARTA – Sejumlah saham emiten pertambangan batu bara bergerak variatif pada perdagangan Senin, 17 Februari 2025, dipicu oleh pelemahan harga emas hitam secara global dalam sepekan terakhir. Lantas, bagaimana prospeknya?

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, hingga pukul 10.25 WIB, saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tercatat melemah 0,74% ke level Rp2.690 per saham. Senada, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga melemah 0,29% ke level Rp25.525 per saham.

Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) pun mengalami penurunan sebesar 1,50% ke level Rp24.675 per saham. Sementara itu, hanya saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang menguat, dengan kenaikan 2,91% ke level Rp106 per saham.

Selain itu, saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk, yang baru-baru ini berganti nama menjadi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), naik 0,45% ke level Rp2.250 per saham. Hal serupa terjadi pada anak usahanya, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), yang tercatat melesat 1,20% ke level Rp840 per saham.

Analis Samuel Sekuritas, Farras Farhan dan Hernanda Cahyo mencatat selama lima hari perdagangan terakhir 07-13 Februari 2025, harga batubara rata-rata merosot menjadi US$108,0/ton (-7,1% Minggu ke Minggu/WoW), mencapai titik terendah US$106,3/ton pada hari Kamis pekan lalu.

“Harga batubara mengalami tekanan penurunan akibat melemahnya harga minyak, seiring dengan semakin berkembangnya ekspektasi resolusi konflik Rusia-Ukraina,” jelasnya dalam riset yang dirilis pada Jumat, 14 Februari 2025.

Selain itu, impor batubara India untuk pembangkit listrik pada tahun 2024 turun 2% menjadi 173 juta ton, karena produksi batubara domestik dari Coal India Ltd, produsen batubara terbesar di dunia, naik +3,9% Tahun ke Tahun/YoY menjadi 785,2 juta ton. 

“Lonjakan pasokan mendorong stok di pembangkit listrik mencapai level tertinggi, mengurangi ketergantungan impor India sebesar 5,5 persen poin selama satu dekade menjadi 20,5%,” jelas perusahaan efek ini. 

Menghadapi potensi penurunan permintaan dari China dan India, serta kekhawatiran akan kelebihan pasokan, Samuel Sekuritas memperkirakan harga batubara untuk kuartal pertama 2025 dan tahun fiskal 2025 akan berada di level US$110/ton (YTD: US$116,8/ton), turun dari proyeksi sebelumnya sebesar US$120/ton. 

“Penurunan harga ini diperkirakan berlanjut pada kuartal kedua 2025, namun ada potensi rebound pada kuartal ketiga 2025 yang dipengaruhi oleh faktor musiman,” tambah mereka. 

Arah Saham

Berdasarkan pertimbangan tersebut, ADRO tetap menjadi pilihan utama, dengan target harga Rp3.400 per saham dan P/E FY25 sebesar 12,8x. Saham ini didorong oleh ekspansi perusahaan ke energi hijau dan kontribusi pendapatan dari ADMR dan SIS.

Selain ADRO, Samuel Sekuritas juga memberikan rekomendasi buy untuk saham UNTR dengan target harga Rp30.850 per saham, dividen yield sebesar 5,2% dan Return on Equity (ROE) sebesar 17,8%, serta saham BUMI dengan target harga Rp140 per saham, peningkatan net buy sebesar 50,6% dan ROE sebesar 13,2%.

Selain itu, rekomendasi buy juga diberikan untuk saham PTBA dengan target harga Rp3.200 per saham, rasio P/E sebesar 7,9% dan ROE sebesar 18,3%, serta saham ITMG dengan target harga Rp30.500 per saham, rasio P/E sebesar 6,4% dan ROE sebesar 17,6%.