
Pemerintah Diminta Berikan Insentif Besar ke Industri Daur Ulang Hilirisasi Nikel
- suntikan insentif ini berguna untuk mendorong hasil dari produk hilirisasi bijih nikel yang digunakan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik di pasar global, seperti di Eropa, Amerika Serikat dan banyak negara lainnya.
Energi
JAKARTA - Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai pemerintah perlu menggelontorkan insentif lebih besar untuk industri daur ulang baterai kendaraan listrik.
Untuk diketahui, baterai kendaraan listrik adalah produk hasil dari hilirisasi bijih nikel yang tengah digencarkan pemerintah. Baterai listrik berbahan dasar nikel ini akan digunakan untuk memenuhi permintaan pasar global, seperti di Eropa, Amerika Serikat dan banyak negara lainnya.
"Industri daur ulang baterai kendaraan listrik memerlukan insentif besar untuk mengurangi dampak negatif (penggunaan baterai)," jelas Bhima di Jakarta Senin, 20 Februari 2024.
- Pemerintah Keluarkan Aturan Baru Diskon PPN untuk Mobil Listrik di 2024
- Sepanjang 2023, Transaksi Kripto di Indonesia Melonjak 179,7 Persen
- Inilah Catatan Kinerja dan Proyeksi Perbankan Tahun 2024 dari OJK
Menurut Bhima, pemerintah sebaiknya tidak memberikan insentif yang berlebihan pada industri smelter melainkan industri hilir seperti daur ulang baterai. Contohnya, ia menyarankan agar insentif untuk industri smelter yang memiliki tingkat emisi sangat tinggi dialihkan ke industri daur ulang baterai.
Bhima menyebut, beberapa asosiasi pertambangan juga telah mengingatkan bahwa produk hilir ini akan menjadi salah satu kekhawatiran dalam kurun waktu 7 hingga 15 tahun mendatang jika industri daur ulangnya tidak dibangun dengan matang.
Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif menjelaskan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bakal mengevaluasi kembali pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel di dalam negeri. Terutama smelter yang menggunakan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Pasalnya, evaluasi tersebut penting dilakukan lantaran sebaran smelter nikel berteknologi RKEF yang menghasilkan produk olahan nikel kelas dua berupa nickel pig iron (NPI) sudah menjamur.
Kondisi tersebut lantas berdampak pada harga jual nikel global yang melemah imbas melimpahnya produk nikel asal RI. Unit smelter yang bakal masuk evaluasi salah satunya yakni milik PT Vale Indonesia. Sebagaimana diketahui, Vale saat ini tengah membangun smelter berteknologi RKEF di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi tengah (Sulteng).