logo
Otto Toto Sugiri pemegang saham tertinggi DCII.jpg
Bursa Saham

Perjalanan Sukses Otto Toto Sugiri, Miliarder di Industri Data Center

  • PT DCI Indonesia Tbk (DCII), yang dimiliki oleh Otto Toto Sugiri, sedang mempertimbangkan untuk melakukan pemecahan saham (stock split) setelah harga sahamnya meroket lebih dari 6.000% sejak melakukan Initial Public Offering (IPO) pada 2021.

Bursa Saham

Alvin Pasza Bagaskara

JAKARTA – PT DCI Indonesia Tbk (DCII), yang dimiliki oleh Otto Toto Sugiri, sedang mempertimbangkan untuk melakukan pemecahan saham (stock split) setelah harga sahamnya meroket lebih dari 6.000% sejak melakukan Initial Public Offering (IPO) pada 2021.

Pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu, 19 Februari 2025, saham DCII tercatat kembali mengalami kenaikan signifikan sebesar 19,97%, mencapai Rp56.025 per saham. Dengan demikian, harga saham perusahaan ini telah melesat sebesar 31,82% sejak awal tahun 2025.

Sebagai informasi, DCII melaksanakan IPO pada tahun 2021 dengan harga saham Rp420. Lonjakan harga saham ini tentu saja memberikan dampak besar bagi Otto Toto Sugiri, pemilik perusahaan, yang berhasil memperoleh keuntungan besar dari keberhasilan perusahaan di pasar modal.

Sejak IPO, valuasi kekayaan Sugiri meningkat secara signifikan. Berdasarkan data terbaru, Otto Toto Sugiri kini masih memegang 712.784.905 saham, yang setara dengan 29,9% kepemilikan perusahaan. 

Dengan harga saham DCII yang telah melonjak tajam, nilai kekayaan Sugiri saat ini tercatat mencapai Rp39,9 triliun. Sebelumnya, pada saat IPO dengan harga saham Rp420, valuasi kekayaannya hanya sekitar Rp299 miliar.

Profil Otto Toto Sugiri: Pionir Teknologi di Indonesia

Otto Toto Sugiri adalah salah satu pengusaha teknologi terkemuka di Indonesia dan pionir dalam industri data center. Lahir di Bandung pada 23 September 1953, Sugiri menyelesaikan pendidikan tekniknya di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1977. Karier profesionalnya dimulai di PT Indosat, di mana ia bekerja lebih dari dua dekade dan menjabat sebagai Direktur Teknik.

Pada tahun 2000, Sugiri mendirikan PT Sigma Cipta Caraka, yang kemudian berkembang menjadi bagian dari Telkom Group. Selanjutnya, pada tahun 2011, Sugiri mendirikan PT DCI Indonesia, yang kini menjadi salah satu perusahaan data center terbesar di Indonesia.

Sejak pendirian DCII, Sugiri berhasil membawa perusahaan tersebut melangkah jauh, bahkan menjadi perusahaan data center pertama yang go public di Indonesia pada tahun 2021. Keberhasilan ini menjadikan Sugiri sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam industri teknologi di Indonesia, terutama dalam bidang infrastruktur digital.

Jejak Bisnis Sugiri: Dari Sigma hingga DCI Indonesia

Sugiri dikenal luas sebagai pendiri perusahaan penyedia internet pionir di Indonesia, Indonet, pada tahun 1995. Perusahaan ini memegang peranan penting dalam membuka akses internet bagi masyarakat Indonesia. Setelahnya, Indonet diakuisisi dan menjadi bagian dari Digital Edge Limited yang berbasis di Hong Kong, yang memberikan keuntungan besar bagi Sugiri.

Namun, pada tahun 2007, Sugiri memutuskan untuk berpisah dengan perusahaan-perusahaan yang telah ia bangun, termasuk Sigma. Pemerintah Indonesia, melalui Telkom Indonesia, mengambil alih Sigma dan mengubahnya menjadi Telkom Sigma. Sugiri akhirnya memilih untuk melepaskan perusahaannya kepada BUMN ini, menyusul komitmen pemerintah untuk mengembangkan sektor teknologi nasional.

Tak berhenti di situ, Sugiri kembali merintis dan membiayai pendirian DCI Indonesia pada tahun 2011. Dengan investasi awal sebesar US$200 juta, DCI Indonesia kini menjadi perusahaan data center terkemuka di Indonesia.

DCI Indonesia: Masa Depan Digital Indonesia

Hingga kuartal III-2024, DCI Indonesia (DCII) mencatat laba bersih sebesar Rp449,48 miliar, yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 21,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Keberhasilan DCI Indonesia di bawah kepemimpinan Sugiri tidak hanya tercermin dalam angka-angka keuangan, tetapi juga dalam kontribusinya terhadap pembangunan infrastruktur digital Indonesia yang lebih kuat.

DCII baru-baru ini fokus pada penyelesaian pembangunan data center di Surabaya dengan investasi sekitar US$72 juta (Rp1,16 triliun). Data center ini memiliki kapasitas 9 MW dan ditargetkan selesai pada awal tahun depan. Pembangunan ini bertujuan untuk melayani konsumen di Surabaya dan memiliki potensi untuk meningkatkan kapasitas di masa depan.

Selain itu, DCII juga sedang membangun data center berkapasitas 36 MW di Cibitung. Hal ini sejalan dengan tingginya permintaan data center di Indonesia, yang diperkirakan mencapai sekitar 2.700 MW.

Kini, dengan mempertimbangkan pemecahan saham sebagai langkah strategis untuk menambah likuiditas dan mempermudah akses investor, DCI Indonesia semakin memperkuat posisinya di pasar saham Indonesia. Langkah ini juga menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mempertahankan pertumbuhannya yang pesat dan mendorong lebih banyak investor untuk bergabung dalam perjalanan sukses perusahaan.