
Perusahaan Semen Milik Anthoni Salim Pangkas Capex Jadi Rp1,1 Triliun
Perusahaan semen milik konglomerat Anthoni Salim PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP), merevisi anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) 2020. Semula, perseroan menggarkan dana Rp1,4 triliun, kini capex berubah menjadi Rp1,1 triliun.
Industri
Perusahaan semen milik konglomerat Anthoni Salim PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP), merevisi anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) 2020. Semula, perseroan menggarkan dana Rp1,4 triliun, kini capex berubah menjadi Rp1,1 triliun.
Direktur & Corporate Secretary Indocement Ocy Marcos menyampaikan, keputusan itu seiring terjadinya pandemi COVID-19.
“Sehingga menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional. Maka Indocement memutuskan untuk melakukan penyesuaian capex,” ujar Ocy melalui keterbukaan informasi di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis, 14 Mei 2020.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
- Anies Baswedan Tunggu Titah Jokowi untuk Tarik Rem Darurat hingga Lockdown
- IPO Akhir Juni 2021, Era Graharealty Dapat Kode Saham IPAC
Selain penyesuaian capex, dalam menghadapi tekanan kondisi perekonomian, Indocement melakukan efisiensi operasional di semua lini. Di antaranya hanya menjalankan pabrik-pabrik yang terbaru dan paling efisien.
“Termasuk optimalisasi pengeluaran semen dari terminal-terminal yang tersebar di berbabai daerah agar biaya distribusi lebih efisien,” jelas Ocy.
Pada saat bersamaan, perseroan juga merelokasi terminal apung dengan nama Quantum One yang semula ada di Samarinda, Kalimantan Timur, pindah ke Konawe Sulawesi Tenggara.
Ocy menuturkan, pemindahan terminal apung itu mempertimbangkan kondisi pasar di Sulawesi yang sedang bertumbuh. “Terminal apung di Konawe ini akan mulai beroperasi pada 18 Mei 2020,” ungkap Ocy.
Ocy berharap, relokasi terminal apung bisa memaksimalkan proses distribusi produk semen perseroan di wilayah Sulawesi dan daerah sekitarnya.
Sebagai informasi, sepanjang 2019 lalu, perusahaan dengan aset Rp27 triliun ini memiliki liabilitas Rp4,63 triliun, dengan ekuitas Rp23,08 triliun.
Kinerja keuangan perseroan pun masih terjaga baik. Indocement mencatat pendapatan Rp15,94 triliun atau naik 4,94% dari periode 2018 Rp15,19 triliun.
Meski penjualan naik tipis, untungnya beban pokok pendapatan Indocement turun dari Rp10,82 triliun menjadi Rp10,44 triliun. Alhasil, Indocement berhasil meraup laba Rp1,84 triliun, melonjak 60% dari Rp1,15 triliun menjadi Rp1,84 triliun.
Namun sayang, kinerja keuangan yang baik tidak bisa menahan penurunan harga saham INTP. Sejak awal tahun (year-to-date/ytd) hingga 13 Mei 2020, saham INTP sudah turun 43,23% dari Rp19.025 per akhir 2019 menjadi Rp10.800. Kapitalisasi pasar saham INTP mencapai Rp39,94 triliun.
Anthoni Salim, adalah pemilik PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) dan Grup Salim. Pria yang kini berumur 71 tahun itu adalah konglomerat terkaya ke-6 di Indonesia versi majalah Forbes 2019.
Kekayaan Anthoni Salim ditaksir mencapai US$5,5 miliar setara Rp88 triliun. Pundi-pundi kekayaannya bersumber dari perusahaan pembuat mi instan terbesar dunia Indofood, perbankan, hingga telekomunikasi. (SKO)