tembakau.jpg
Nasional

Regulasi Menjadi Kunci Optimalkan Potensi Produk Tembakau Alternatif

  • Masyarakat membutuhkan regulasi yang transparan dan akuntabel, khususnya aturan terkait produk tembakau alternatif. Kedua elemen tersebut sangat dibutuhkan demi menurunkan prevalensi perokok Indonesia yang tinggi.
Nasional
Debrinata Rizky

Debrinata Rizky

Author

JAKARTA - Masyarakat membutuhkan regulasi yang transparan dan akuntabel, khususnya aturan terkait produk tembakau alternatif. Kedua elemen tersebut sangat dibutuhkan demi menurunkan prevalensi perokok Indonesia yang tinggi.

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Satria Aji Imawan mengatakan bahwa aspek transparansi dalam regulasi produk tembakau alternatif ini perlu diperhatikan. Ini bertujuan untuk menjamin informasi yang akurat dapat menjangkau perokok dewasa sebagai konsumen.

Menurutnya, produk tembakau alternatif memerlukan regulasi yang jelas membedakan pengaturannya dengan produk tembakau konvensional, atau rokok. Dalam proses perumusannya, diperlukan riset sebagai dasar pembuatan regulasi.

“Riset ini idealnya dibuat oleh lembaga kredibel yang dipercaya masyarakat, mengingat pentingnya regulasi produk tembakau alternatif. Transparansi dan akuntabilitas bersifat krusial dalam perumusan riset sebagai basis regulasi,” ujar dia, Sabtu, 18 Juni 2022.

Menurutnya, regulasi ini penting karena dapat berimplikasi dalam berbagai aspek. “Karena itu adalah dampak yang utama bagi kesehatan dan ekonomi. Itu aspek transparansi,” tambahnya lagi.

Dari sisi akuntabilitas, sebuah regulasi harus dibuat berdasarkan fakta atau hasil riset yang bisa dipercaya dan dilakukan secara metodologis serta tidak problematik.

Selain memenuhi kedua elemen tersebut, Satria meneruskan, sebuah regulasi juga harus melibatkan publik dalam proses pembuatannya. Selain itu, naskah akademik juga dapat dipresentasikan dalam format infografis agar masyarakat mudah memahaminya.

“Jadi sebelum didebatkan begitu, publik harus menerima jaring pendapat dari perumus kebijakan yang terlibat dalam pembuatan regulasi ini,” tutur Satria.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kehadiran regulasi ini juga harus diimbangi dengan kampanye bersifat persuasif yang disebarkan seluas-luasnya. Misalnya, kampanye mengenai bahaya merokok yang bisa dimanfaatkan agar perokok dewasa dapat beralih dari rokok secara perlahan. Pasalnya, selain menjadi kebutuhan, merokok sendiri sudah menjadi bagian dari budaya dan gaya hidup di kalangan sejumlah masyarakat.

Langkah-langkah tersebut harus dikawal pula dengan survei berkala demi mencapai tujuan menurunkan prevalensi perokok di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, prevalensi perokok di Indonesia mencapai 28,96% pada 2021.

Menurut Satria, langkah-langkah persuasif melalui diseminasi informasi yang benar dan sesuai fakta sebenarnya sudah cukup berhasil di kota-kota besar, di mana perubahan gaya hidup sudah mulai terlihat dengan adanya peralihan konsumsi rokok ke produk tembakau alternatif di kalangan perokok dewasa.

Sebelumnya, Ahli Bedah Onkologi dari Spanyol Fernando Fernandez Bueno menyebutkan bahwa saat ini semakin banyak pakar kesehatan masyarakat yang mendukung pemanfaatan produk tembakau alternatif di kalangan perokok dewasa, demi mengurangi risiko akibat merokok.

Namun, mereka juga khawatir lantaran banyaknya negara-negara yang mengabaikan bukti-bukti ilmiah yang terus bertambah terkait produk tembakau alternatif dan potensinya sebagai alternatif yang memang lebih rendah risiko.

“Oleh karena itu, kita harus terus menyampaikan dan meyakinkan masyarakat, termasuk para pembuat kebijakan bahwa dalam jangka panjang, produk tembakau alternatif mampu membantu mengurangi risiko akibat tembakau,” papar Bueno.