logo
Tambang emas PT Newmont Nusa Tenggara yang kini berganti nama menjadi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) dimiliki oleh Arifin Panigoro / PTNNT.co.id
Korporasi

Saham AMMN Anjlok 52 Persen dari Level ATH, Apa Penyebabnya?

  • Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) anjlok 52,01% dari all-time high di Rp14.900 per saham, kembali ke level tahun sebelumnya. Pelemahan ini dikaitkan dengan kebijakan proteksionisme Donald Trump yang berdampak pada permintaan global tembaga.

Korporasi

Bagaskara

Bagaskara

Author

JAKARTA – Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) tercatat mengalami penurunan sejak awal perdagangan tahun 2025. Bahkan, harganya telah kembali ke level tahun sebelumnya, turun sebesar 52,01% dari titik tertinggi sepanjang masa (all-time high) di level Rp14.900 per saham. Lalu, apa penyebabnya?

Hingga perdagangan sesi pertama hari ini, Senin, 3 Februari 2025, pukul 11.34 WIB, saham AMMN melemah 4,98% ke level Rp7.150 per saham. Saham emiten pertambangan tembaga ini terpotret telah ditransaksikan 82,42 ribut lot dengan valuasi Rp45,1 miliar.

Sementara itu, data Stockbit menunjukkan saham ini mengalaimi antrean jual sebanyak 5.254 lot di kisaran harga Rp7.175-7.400 per saham. Adapun pada perdagangan akhir pekan lalui, saham ini juga diderang net sell asing mencapai Rp37,6 miliar.

Tidak hanya itu, secara year-to-date (YTD), lebih banyak investor yang menjual saham AMMN dengan total nilai penjualan mencapai Rp618 miliar, dibandingkan pembelian yang hanya sebesar Rp565 miliar.

Dari sisi sentimen, pelemahan saham AMMN dikaitkan dengan kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh Donald Trump. Kebijakan proteksionisme yang dikenal dengan pendekatan "inward-looking" ini berdampak signifikan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Kebijakan ini mencakup pembatasan impor, pengutamaan produk dalam negeri, pembatasan imigrasi, dan pemotongan pajak untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Namun, dampaknya juga dirasakan oleh negara lain, termasuk Indonesia,” ujar Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (BI) NTB, Berry Arifsyah Harahap, pada 18 Desember 2024.

Lebih lanjut, Berry menjelaskan bahwa kebijakan proteksionisme Trump menyebabkan penurunan impor dari China, yang berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Hal ini berimbas pada permintaan global terhadap komoditas, termasuk produk energi dan bahan tambang dari Indonesia seperti tembaga.

"Dampaknya bagi NTB adalah kemungkinan turunnya permintaan tembaga. Jika permintaan tembaga dari Amerika Serikat melemah, maka harga dan kinerja industri tambang di NTB akan terdampak," tambahnya.

NTB sendiri merupakan rumah bagi salah satu tambang tembaga terbesar di dunia, yakni PT Amman Mineral Nusa Tenggara, anak usaha AMMN. Penurunan permintaan tembaga dari Amerika Serikat dikhawatirkan akan berimbas pada kinerja pertambangan di wilayah ini.

Grafik Saham AMMN/Dok.TradingView

Sebelumnya, Samuel Sekuritas memberikan rating jual untuk saham AMMN pada harga Rp9.000 per saham dalam riset yang dirilis pada Selasa, 14 Januari 2025. Saat itu, harga saham AMMN berada di level Rp8.100 per saham, mencerminkan penurunan 3,83% sejak awal tahun 2025.

Rekor Produksi di Kuartal III-2024

Meski menghadapi tekanan eksternal, dari sisi produksi, AMMN mencatatkan rekor produksi tembaga dan emas melalui anak usahanya, PT Amman Mineral Nusa Tenggara, yang mengoperasikan Tambang Batu Hijau.

Pada kuartal III-2024, produksi konsentrat meningkat 85% menjadi 637.106 metrik ton kering, dengan volume penjualan mencapai 537.823 metrik ton kering. Produksi tembaga juga naik 68% dibanding tahun sebelumnya menjadi 335 juta pon, dengan volume penjualan mencapai 272 juta pon.

Sementara itu, produksi emas melonjak 173% menjadi 707.930 ons, dengan volume penjualan sebesar 573.065 ons. Peningkatan ini didorong oleh produksi bijih berkadar tinggi dari Fase 7 serta ekspansi pabrik konsentrator.

Seiring dengan perkembangan proyek ekspansi, AMMAN menyesuaikan rencana tambang guna mendukung transisi dari Fase 7 ke Fase 8, serta menyesuaikan jadwal produksi smelter. Saat ini, komisioning smelter masih berlangsung, dengan target produksi katoda tembaga pertama pada kuartal I-2025.