logo
Ilustrasi PT Sompo Insurance Indonesia.
IKNB

Sompo Insurance Optimistis Industri Asuransi akan Tumbuh Positif setelah Lewati Tahun Politik

  • Menurut Eric, konsumsi masyarakat biasanya menurun selama tahun politik, namun akan mengalami peningkatan setelahnya.

IKNB

Idham Nur Indrajaya

JAKARTA – Industri asuransi diprediksi akan mengalami pertumbuhan yang positif di tahun 2025 setelah melewati tahun politik. CEO PT Sompo Insurance Indonesia , Eric Nemitz, dalam acara media gathering di Jakarta, Rabu, 26 Februari 2025 mengungkapkan optimisme terhadap prospek industri asuransi meskipun menghadapi tantangan di kuartal pertama.

Menurut Eric, konsumsi masyarakat biasanya menurun selama tahun politik, namun akan mengalami peningkatan setelahnya. 

“Kami memperkirakan tahun ini akan menjadi tahun yang baik bagi industri asuransi. Meskipun begitu, kuartal pertama kemungkinan akan lebih rendah karena banyaknya hari libur, seperti libur akhir tahun, Tahun Baru Imlek, Ramadan, dan Idulfitri,” ujarnya.

Eric menambahkan bahwa setelah periode tersebut, diperkirakan akan terjadi peningkatan konsumsi yang berdampak positif terhadap industri asuransi. “Biasanya setelah Idulfitri, masyarakat baru mulai kembali membeli asuransi,” tambahnya.

Performa Sompo dan Strategi Akuntansi Baru

Sompo telah melakukan perubahan dalam siklus akuntansinya, yang kini ditutup lebih awal untuk memungkinkan pelaporan keuangan segera di awal tahun. 

“Kami menutup pembukuan di pertengahan hingga akhir Desember dan langsung melaporkannya di Januari. Dengan strategi ini, kami tidak terlalu terdampak oleh hari libur,” jelas Eric.

Ia juga menegaskan bahwa perusahaan mencatatkan kinerja yang sangat baik di Januari 2025, meskipun tetap memperkirakan bulan Februari dan Maret akan lebih lambat karena dampak libur Imlek dan Ramadan.

Lini Bisnis Penyumbang Pendapatan Terbesar

Dalam paparannya, Eric mengungkapkan bahwa lini bisnis yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan Sompo pada 2024 adalah asuransi properti dan kebakaran, diikuti oleh asuransi kendaraan bermotor, kesehatan, dan kelautan.

“Jika dilihat dari total premi bruto yang dikumpulkan, lini bisnis utama kami adalah properti dan kebakaran, kendaraan bermotor, kesehatan, lalu kelautan. 

Namun, jika melihat premi yang benar-benar kami simpan di perusahaan, urutannya berbeda: kendaraan bermotor dan kesehatan menempati posisi teratas, diikuti oleh properti dan kebakaran serta kelautan,” jelasnya.

Eric menjelaskan bahwa perbedaan ini disebabkan oleh skema reasuransi. Asuransi properti dan kelautan memiliki risiko besar sehingga perlu dialihkan ke reasuransi, sementara asuransi kendaraan dan kesehatan memiliki risiko lebih kecil karena tersebar di banyak pelanggan.

“Untuk asuransi kendaraan dan kesehatan, risikonya lebih mudah kami tanggung sendiri karena tersebar di banyak nasabah. Namun, untuk asuransi kebakaran yang mencakup pabrik besar dengan nilai miliaran rupiah, kami bekerja sama dengan reasuransi, terutama di dalam kelompok Sompo, atau bahkan dengan reasuransi internasional jika risikonya sangat besar,” jelasnya.

Prediksi Pasar Asuransi 2025

Eric menyoroti beberapa tren yang akan memengaruhi industri asuransi di 2025. Salah satunya adalah stagnasi di pasar asuransi kendaraan bermotor. 

“Penjualan mobil diprediksi sedikit menurun karena perbaikan infrastruktur transportasi publik. Banyak generasi muda sekarang lebih memilih menggunakan transportasi umum atau layanan ride-hailing daripada memiliki kendaraan pribadi,” katanya.

Di sisi lain, asuransi kesehatan diperkirakan akan tumbuh pesat. “Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asuransi kesehatan meningkat sejak pandemi COVID-19. BPJS Kesehatan memang telah membantu banyak orang, tetapi setelah 10 tahun berjalan, ekspektasi masyarakat juga meningkat. Kami melihat peluang besar untuk asuransi tambahan yang melengkapi BPJS,” ujar Eric.

Selain itu, inflasi medis yang jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi umum menjadi tantangan bagi perusahaan dalam memberikan manfaat kesehatan kepada karyawan. 

“Inflasi umum di bawah 5%, sedangkan inflasi biaya medis diprediksi mencapai 16 hingga 19% tahun ini. Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5-7%, perusahaan akan kesulitan terus menanggung biaya kesehatan karyawan sepenuhnya,” jelasnya.

Eric memperkirakan bahwa banyak perusahaan akan mulai membatasi manfaat kesehatan yang mereka tanggung, sehingga mendorong permintaan terhadap asuransi tambahan dari karyawan. 

“Kami yakin segmen asuransi tambahan untuk karyawan akan terus bertumbuh, baik di tahun ini maupun dalam jangka panjang,” tutupnya.