logo
Gedung Telkom di kawasan Jl Gatot Subroto Jakarta. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia
Bursa Saham

Telkomsel Gaspol Ekspansi Fixed Broadband, Saham TLKM Makin Menarik?

  • Selain ekspansi pelanggan, Telkomsel juga berupaya meningkatkan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) menjadi Rp240,000

Bursa Saham

Alvin Pasza Bagaskara

JAKARTA – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) semakin agresif memperluas bisnisnya di segmen fixed broadband (FBB) sekaligus mengoptimalkan pendapatan dari pelanggan premium. Dalam konferensi dengan analis, manajemen Telkom memaparkan sejumlah langkah strategis yang akan dijalankan hingga 2025 guna menjaga pertumbuhan berkelanjutan.

Dalam riset yang dirilis oleh Mirae Asset Sekuritas Indonesia, analis Daniel Widjaja dan Wilbert Arifin menyoroti empat poin utama dalam strategi ekspansi Telkomsel.

“Telkomsel menargetkan penambahan pelanggan fixed broadband sebesar 800 ribu hingga 1 juta pengguna pada 2024, dengan total basis pelanggan diperkirakan mencapai 10 juta,” tulis Daniel dan Wilbert dalam laporan mereka pada Kamis, 20 Februari 2025.

Selain ekspansi pelanggan, Telkomsel juga berupaya meningkatkan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) menjadi Rp240,000. “Emiten berkode saham TLKM ini akan fokus pada pertumbuhan pelanggan premium, yang memiliki daya beli lebih tinggi dan loyalitas lebih kuat,”jelas mereka.

Dari sisi efisiensi, Telkomsel menargetkan rasio belanja modal (capital expenditure/capex) terhadap pendapatan turun secara bertahap hingga 2028. “Targetnya adalah 17-19%, yang akan dicapai melalui optimalisasi investasi jaringan dan strategi biaya yang lebih efisien,” ungkap analis Mirae Asset Sekuritas.

Seiring dengan strategi ini, Telkomsel juga berencana menyesuaikan tarif layanan, sambil tetap menjaga keterjangkauan paket data. “Pertumbuhan ARPU diperkirakan akan sejalan dengan inflasi, didorong oleh peningkatan konsumsi data dan pertumbuhan pelanggan bernilai tinggi yang kurang sensitif terhadap harga,” tambah Daniel dan Wilberth. 

Meskipun demikian, margin keuntungan pada 2024 diperkirakan akan sedikit tertekan akibat program pensiun dini yang tengah dijalankan perusahaan.

Dari sisi dominasi pasar, Telkomsel mempertahankan pangsa 70-75% di segmen fixed broadband yang mencakup 450-500 kota. Untuk mengatasi tantangan keterjangkauan, perusahaan meluncurkan EzNet sebagai solusi yang lebih fleksibel bagi pelanggan di berbagai segmen.

Telkomsel juga tengah mengevaluasi peluang dalam lelang spektrum 1,4 GHz untuk memastikan efektivitas biaya dan manfaat jangka panjang, serta menjajaki solusi fixed wireless access (FWA) guna mempercepat ekspansi jaringan di daerah yang belum terjangkau fiber optik.

“Sementara konsumsi data per pengguna meningkat dan tren lalu lintas tetap positif, biaya pemasaran dan penjualan yang stabil mungkin akan diimbangi oleh penurunan margin pada 2024,” tulis Mirae Asset Sekuritas dalam risetnya.

Adapun dari sisi investasi, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham TLKM dan Indosat (ISAT), dengan target harga masing-masing Rp 3.600 dan Rp 3.200. Namun, mereka mencatat bahwa risiko utama tetap ada, terutama jika ARPU berada di bawah ekspektasi atau terjadi persaingan yang semakin ketat di industri telekomunikasi.